03 Juli 2026
Bab 2 skripsi, atau tinjauan pustaka, bukan sekadar kumpulan kutipan teori yang ditempel berurutan. Bab ini harus menunjukkan bahwa kamu memahami lanskap penelitian di bidangmu, tahu di mana celah penelitianmu berada, dan mampu membangun argumen yang koheren sebelum masuk ke metodologi.
Kunci Bab 2 yang kuat bukan seberapa banyak referensi yang kamu kutip, melainkan seberapa jelas kamu menghubungkan setiap teori dengan pertanyaan penelitianmu sendiri.
Banyak mahasiswa memulai Bab 2 dengan cara yang sama: buka Google Scholar, cari keyword judul skripsi, lalu salin-ringkas abstrak satu per satu. Hasilnya? Bab yang panjang tapi terasa datar, dan dosen pembimbing pun sering berkomentar, ini cuma daftar teori, bukan tinjauan pustaka.
Masalahnya bukan malas atau kurang referensi. Masalahnya adalah belum ada kerangka berpikir yang jelas sebelum mulai menulis. Tanpa kerangka itu, kamu akan terus menambah sumber tanpa tahu kapan Bab 2 benar-benar selesai.
Meski setiap kampus punya panduan berbeda, struktur Bab 2 yang paling banyak diterima dosen terdiri dari tiga lapisan utama. Memahami fungsi masing-masing lapisan akan membuat proses penulisannya jauh lebih terarah.
| Bagian | Isi | Fungsi dalam Argumen |
|---|---|---|
| Landasan Teori | Teori utama yang mendasari variabel atau konsep penelitian | Memberi fondasi ilmiah untuk kerangka berpikirmu |
| Kajian Penelitian Terdahulu | Ringkasan dan perbandingan penelitian relevan sebelumnya | Menunjukkan posisi penelitianmu di antara penelitian yang ada |
| Kerangka Berpikir / Hipotesis | Diagram atau narasi hubungan antar variabel | Menjembatani Bab 2 ke Bab 3 (metodologi) |
Tidak semua artikel yang muncul di hasil pencarian layak masuk Bab 2. Ada beberapa kriteria sederhana yang bisa kamu pakai sebagai filter sebelum memutuskan satu referensi layak dikutip.
Perbedaan tinjauan pustaka yang baik dengan yang biasa-biasa terletak pada cara kamu mengaitkan satu sumber dengan sumber lain. Alih-alih menulis satu paragraf per sumber, coba kelompokkan sumber berdasarkan tema atau sudut pandang, lalu tulis sintesis dari beberapa sumber sekaligus.
Contoh pola yang lebih kuat: Beberapa peneliti sepakat bahwa X berpengaruh terhadap Y (Sumber A, 2020; Sumber B, 2021), meski Sumber C (2022) menemukan hasil berbeda pada konteks Z. Pola seperti ini menunjukkan kamu benar-benar membaca dan membandingkan, bukan sekadar meringkas satu per satu.
Mentor di program Bimbingan Skripsi & TA KamuSiap biasanya membantu kamu memetakan sumber-sumber yang sudah terkumpul ke dalam kelompok tema sebelum mulai menulis, supaya prosesnya lebih cepat dan hasilnya lebih koheren.
Tidak ada angka baku yang berlaku universal. Tapi sebagai patokan umum, skripsi S1 biasanya memiliki 20-40 referensi total, dengan porsi terbesar ada di Bab 2. Yang lebih penting dari jumlahnya adalah kualitas dan keterkaitannya dengan topikmu.
Kalau dosen pembimbingmu belum memberi arahan spesifik soal jumlah, tanyakan langsung di sesi bimbingan pertama. Mengetahui ekspektasi dosen sejak awal akan menghemat banyak waktu revisi.
Kekhawatiran soal plagiarisme sering membuat mahasiswa terlalu berhati-hati sampai akhirnya tidak produktif. Parafrase yang baik bukan berarti mengganti setiap kata dengan sinonim, melainkan menangkap ide dari sumber lalu menuliskannya ulang dengan bahasamu sendiri dan tetap mencantumkan sitasi.
Kutipan langsung (verbatim) sebaiknya digunakan hanya untuk definisi resmi, pernyataan yang sangat spesifik, atau kalimat yang tidak bisa diparafrase tanpa kehilangan maknanya. Selain itu, parafrase dan sintesis adalah pilihan yang lebih baik.
Jika kampusmu menggunakan Turnitin atau alat serupa, ingat bahwa similarity index yang tinggi tidak otomatis berarti plagiarisme. Dosen biasanya melihat konteksnya, bukan angkanya semata. Tapi menjaga similarity di bawah 20-25% adalah praktik yang aman untuk sebagian besar institusi.
Bab 2 siap dilanjutkan ke Bab 3 ketika tiga hal ini sudah terpenuhi: semua variabel atau konsep utama penelitianmu sudah punya landasan teori yang jelas, posisi penelitianmu di antara penelitian terdahulu sudah terlihat, dan kerangka berpikir atau hipotesis sudah terbentuk secara logis.
Kalau salah satu dari tiga hal itu masih kabur, kemungkinan besar dosen akan meminta revisi sebelum mengizinkan kamu lanjut. Lebih baik perkuat Bab 2 sekarang daripada bolak-balik revisi setelah Bab 3 dan 4 sudah jadi.
Buat kamu yang sedang stuck di tahap ini dan butuh pendampingan yang lebih terstruktur, kamu bisa cek bagaimana KamuSiap mendampingi proses skripsi dari Bab 1 sampai sidang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bertanya!